Perasaan Yang Tak Akan Pernah Tersampaikan
Assalamu'alaikum manteman, ukhti akhi...
Lagi pengen nulis cerita-cerita gitu ya, soalnya hati rada keganggu sama dirinya, pikiran juga. Tapi rasanya beda sama cinta yang dulu #eaaa
Langsung aja ya ke tulisan saya:
Lagi pengen nulis cerita-cerita gitu ya, soalnya hati rada keganggu sama dirinya, pikiran juga. Tapi rasanya beda sama cinta yang dulu #eaaa
Langsung aja ya ke tulisan saya:
1
Em baru saja menyelesaikan beberapa lembar tugas sejarah saat Han
tiba-tiba muncul di hadapannya—dan sedang tersenyum—saat dia menurunkan kertas
dari wajah. “Selesai?” tanya Han santai, seolah tidak tahu bahwa perlakuannya
membuat Em agak kaget, dibalik niatnya untuk menjauhi Han—karena tidak mau
menganggap hubungan ini istimewa, yang jelas, dia bukan siapa-siapa dalam
kehidupan Han yang dipenuhi wanita. “Hem,” dan, bagaimana pun, meski dalam hati
terdalamnya dia menginginkan Han memperhatikannya lebih dari ini, tidak ada
lagi yang bisa dilakukan seorang Em agar terhindar dari sakit hati. “Em, jangan
lagi,” Han mengeluarkan dua bungkus makanan, memberikan satu di bangku Em.
“Sahabat tidak boleh bertengkar, oke? Aku tahu kemarin kamu sakit, tapi Zi
terus mengajakku tertawa, jadi aku lupa bilang,” saat Em membuka mulutnya untuk
bicara, Han terlebih dahulu melanjutkan. “Em, aku ingat saat kamu datang ke UKS
pas aku sakit dan bilang GWS, aku
minta maaf ya?”
Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Kenapa harus saat di mana saat dia
akan menjauh? Jadi, sambil menatap kosong ke bungkusan yang dibawa Han, Em
mengangguk lemah, sementara Han, dengan sikap bangga, tersenyum manis sekali
sampai Em lupa rencananya yang sudah berusaha dia ingat-ingat semalam sebelum
tidur. “Makasih, Han,” sambil menarik napas, lalu menahannya, “tapi aku masih
banyak tugas,” dan mengeluarkannya di kalimat terakhir. Jika Han mengerti,
perkataan Em mestinya berupa sebuah penolakan. “Ya, aku nunggu di sini. Kita
bisa makan dulu lima belas menit, kan?” sulit sekali mengatasi Han. Sulit
sekali saat Em berharap Han akan menjadi segala-gala dirinya. “Han,” Em menekan
intonasi bicaranya—terutama karena ini adalah benteng terakhir dari pertahanan
yang telah dia buat semenjak Han terlihat dengan wanita lain yang bukan
pacarnya, Fahi, meski hanya sebagai teman. “Em,” balas Han, ikut-ikutan
menekan intonasinya, “kamu gak suka ya, aku ke sini bawain makanan?” kemudian matanya menjadi berubah, dan Em sungguh
tidak ingin Han sedih. “Aku suka, dan senang,” terdapat jeda antara kalimat
yang akan Em katakan, “sebagai sahabat,” meski pun kata-kata itu cukup
mem-buatnya sadar bahwa Han berpacaran dengan Fahi, tapi hatinya tetap
berontak.
Akan tetapi mereka tidak ingin—Em tidak ingin menambah semuanya lebih
rumit, jadi hari ini, dia melepaskan—mengikhlaskan hubungannya dengan Han
adalah sebagai sahabat. Han mulai membuka kedua bungkus makanan yang ia bawa,
menyerahkannya kepada Em sambil menahan tawa karena keberhasilannya. Dan
seperti kebiasaan-kebiasaan terdahulunya, Han bercerita tentang impian masa
depannya, tentang bagaimana nanti ia akan melamar seorang gadis, yang disambut
ledakan tawa Em. “Aku bakal jadi polisi dulu buat ngelamar Fahi! Nah, Em,
sekarang lihat!” Han membuka mulutnya lebar-lebar. “Gigi seorang polisi tidak
boleh ada yang bolong, jadi aku mencabutnya…” wajahnya terlihat muram saat
menceritakan bagian gigi dewasa yang dicabut, membuat Em meringis. “Dokternya
gak bisa, dia sulit.” Em mengangguk, bahkan saat giginya yang susu dicabut, itu
sudah terasa sakit. “Tapi Em, kita harus punya strategi buat kemungkinan
terburuk,” sambil memasukkan tangan berisi nasi dan lauk pauk ke mulutnya, Han
bilang kalau dia akan kuliah kelistrikan kalau dia tidak diterima di akademi.
“Kamu gak bisa lagi males-malesan, Han, gak boleh main lagi sepulang sekolah!”
sambil menaruh telunjuknya di depan hidung Han, Em menghentikan kunyahannya.
“Em …” intonasi Han lebih mirip seekor kucing yang mengeong dengan lembut. “Ini
masa muda, Em, masa muda!” suaranya terdengar bersemangat, membuat Em sadar
kalau dia belum bersenang-senang atas masa mudanya, jadi dia cuma bisa
mengangkat bahu dan menatap keluar jendela, koridor sekolah. “Jangan diem mulu
di rumah, kali-kali main kek,” tapi Em terlanjur kaget dengan Fahi yang sedang
memerhatikan mereka berdua dari koridor, dan dia langsung mengalihkan
pandangannya, memelototi Han.
“Jangan lagi. Gak lucu,” ucap Han sambil menggeleng-geleng kepalanya.
Em memberi isyarat dengan matanya, menyuruh Han menatap jendela, dan
seketika dia mengerti. “Oh!” teriak Han. “Maaf ganggu,” katanya sopan, lalu
keluar kelas untuk menemui Fahi. Awalnya Han menyapa sambil tersenyum, dan
mereka mengobrol cukup lama, entah tentang apa. Namun akhirnya, Han kembali ke
kelas dengan wajah murung, langsung duduk di bangkunya, lalu menutup wajah
dengan tangan. Fahi tidak pernah tahu tentang Em, dan Han juga tidak pernah
memberitahunya. Akan ada kesalahpahaman sekarang, tapi Em—meski agak
cemas—berusaha untuk mengatur napasnya, membereskan meja bekas makan mereka,
menalikan bungkusan makanan yang diberi Han, lalu pergi keluar untuk mencuci
tangan. Perasaan Fahi sama dengannya, mereka sama-sama wanita. Apakah rasanya
sakit? Em bertanya-tanya dalam hatinya, tapi dia tidak tahu. Dia tidak pernah
terjebak sesuatu yang rumit dengan lelaki sebelum-nya. Biasanya semua yang
terjadi, kisah cinta Em, berjalan baik tanpa ada orang ketiga. Ketika Em sampai
di wastafel, persis di depan kelas Fahi, dia melihat anak itu juga murung
seperti Han. Oh, mereka hanya belum memberitahu kebenaran masing-masing. Em
berniat untuk menyapa, memberi tahu kebenaran bahwa dia hanya teman sekelas
Han, yang ini murni, menyadari bahwa perasaannya kepada Han hanya selintas
kecemburuan seorang teman, bukan kekasih.
Dia mulai melangkahkan kaki setelah berdamai dengan dirinya sendiri.
Tapi beberapa detik setelah itu, Fahi menatapnya sendu, dan Em sadar
kalau kesalahan-nya memang fatal. Tidak boleh lagi berdekatan dengan Han. Tidak
sedekat itu.
***
To be continued ya...
Sebenernya ini campuran antara fiksi dan nonfiksi wkwk
Komentar
Posting Komentar