Kelabilan Anak Lulus SD (yang udah ngerasa gede) (part 1)

Assalamu'alaikum warohmatulloh

Gimana kabarnya? Semoga baik-baik ya, kalau engga? Syukuri aja we.

Pas saya lulus SD sekitar empat tahun yang lalu dengan prestasi yang cukup dan nem juga kayaknya cukup buat masuk BE 1 atau SMPN 1 Baleendah, saya milih untuk melanjutkan ke sebuah pesantren di Garut. Karena sudah ditakdirkan akan mengalami penyakit bronitis sebelum saya pergi ke asrama di sana, saya jadi gelisah gundah gulana dan merasa akan mati sebentar lagi. Saya melakukan beberapa pengetesan oleh dokter seperti tes dahak dan darah juga rongsen. Dokter bilang hasilnya positif, dia bilang memang ada bercak di paru-paru saya (ayah saya adalah seorang perokok), dan dokter bilang harus sering periksa, sedangkan dua hari lagi saya harus pergi ke asrama, tepatnya hari Jum'at, entah tanggal berapa.

Tapi saya tetap berangkat ke pesantren selama dua minggu dan setelah itu libur.
Saya bertemu teman-teman yang baik dan mau berbagi.
Tapi saya ga betah di sana.  Saat panen tiba, karena di sana banyak sawah, banyak petani membakar padi, mungkin batangnya, dan asapnya sampai ke pesantren, membuat saya batuk.
Tempat makannya merupakan bangunan tanpa tembok di depannya, jadi udara sangat dingin, mungkin karena saat itu musim hujan dan saya sedang sakit.
Mencuci bukanlah hal yang masalah, tapi setiap saya teringat kalau biasanya ibu yang mencucikannya untuk saya, saya langsung rindu ibu.
Asrama putri selalu dikunci dan santriwati hanya boleh keluar hari Jum'at, dan itu membuat saya makin merasa terkurung dan tidak bisa melihat dunia luar.
Semuanya menyenangkan, entah bagi beberapa orang mungkin iya, tapi saya merasa sangat sudah menyusahkan orangtua karena biaya masuk pesantren. Bukankah smp negri gratis? :'(

Di situ, saya merasa sangat salah, saya belum melakukan solat istikhoroh, dan inilah akibatnya.
Allaahu Robbii...

Saya mengeluarkan diri dari pesantren, pindah ke sekolah desa. Bukan keinginan saya. Itu terjadi cepat sekali, ketika seharusnya saya pulang ke asrama, tapi saya terlanjur bilang ke ayah, "Teteh mau pindah, SMP BE juga gapapa," dan untuk masuk ke BE, saya harus terlebih dahulu ke smp desa untuk nanti pindah ke sana. Ini sangat rumit dan rasanya memang ingin marah-marah.

Tapi dasar bocah yang gak tau syukur dulunya, jadi begitu.
Saya hanya bertahan satu semester di sekolah desa itu...
Saya pikir itu bukan hal yang baik, jadi saya pindah lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Followers sedikit? Nih Tips Biar...

Mencari Sesuatu

Cara Mengatasi Malas Belajar